Kamis, 02 Oktober 2014

Maaf Untuk Setiap Permintaan Maafku Padamu

1. Maaf aku terlambat menemukanmu
2. Maaf aku membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu
3. Maaf aku pernah berkata angkuh dalam hati bahwa aku tidak membutuhkanmu, padahal kenyataannya adalah sebaliknya
4. Maaf untuk ketidaksempurnaan dalam mencintaimu
5. Maaf untuk semua rencana kita yang telah gagal
6. Maaf aku belum bisa melupakanmu
7. Maaf aku masih mencarimu
8. Maaf untuk kebersamaan yang begitu singkat
9. Maaf untuk setiap luka yang masih melekat
10. Maaf untuk segala harapanku yang masih ingin bertemu denganmu  saat aku dan kamu sudah tidak lagi sebagai kita
11. Maaf aku masih menutup hati ini untuk orang lain karena mengira suatu saat kamu akan kembali
12. Maaf untuk setiap cemburuku pada orang-orang yang bisa berada dekat denganmu
13. Maaf aku tidak bisa menghilangkan perasaanku kepadamu begitu saja
14. Maaf aku masih saja berusaha untuk mencari kesempatan bertemu denganmu meski kamu tak ingin lagi
15. Maaf aku mencintaimu sebesar ini
16. Maaf aku gagal membuatmu bahagia
17. Maaf untuk setiap hari yang masih kuhabiskan dengan memikirkanmu meski kamu tidak lagi memikirkanku
18. Maaf untuk setiap rindu ini yang masih saja untukmu bahkan setelah kamu jauh pergi
19. Maaf aku masih ingin kamu kembali

"Surat Untuk Ruth" -Bernard Batubara

SMANITRA

SMANITRA CUP!!

OPEN REGISTRATION FOR ALL COMPETITIONS!!! AYO KE SMAN 1 TANGERANG UNTUK MENDAFTAR TEAM SEKOLAH KALIAN!!
[Setiap Senin-Jum'at, pukul 13:00-15:00]

SMANITRACUP 2014

"BLAST THE FINESSE, DIVE YOUR LIMITS"

OCT 13 2014 - OCT 26 2014

AT GOR DIMYATI KOTA TANGERANG

AT PASAR SENI TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL (FOR SAMAN)

?? FUTSAL PUTRA/PUTRI
CP: HASBI 083873783788 (LINE: HASBIHAFIZHAN)

?? BASKET PUTRA/PUTRI
CP: ARYA 081316316458 (LINE: ARYAWARDHNA)

?? RALLY PHOTO
CP: GUSTI 089694176250 (LINE: GUSTI1996)

?? SAMAN 
CP: MEGA 082298269045 (LINE: MEGAFAHTIA)

BRACE YOURSELF TO JOIN US IN SMANITRACUP 2014!

Twitter / IG: @SmanitraCup2014
Web: smanitracup2014.com

Sepenggal Rasa

Malam ini langit tidak seperti biasanya. Tidak dikelilingi oleh cahaya bintang malam, bahkan tidak ada sang purnama. Padahal aku ingin sekali menceritakan setumpuk asa yang sedaritadi telah bergerumul dalam benakku. Aku menggigit ujung pulpen berwarna putih milikku. Sambil mengerutkan wajah dan sesekali mataku terkelap-kelip, seperti seorang ahli politik yang sedang memikirkan masalah negara.
Jarum jam memainkan irama dengan ketukan yang perlahan. Tik tok tik tok. Sama iramanya dengan degupan jantung dan helaan nafasku yang turun naik. Aku menghela nafas panjang. Tidak terasa sudah tiga jam aku berkhayal di jendela kamarku. Memikirkan berbagai masalah yang otakku sendiri pun tidak dapat mengingatnya. Jari jemariku mulai menelusuri jendala kamarku. Curah lembut hujan jatuh ditempatnya; tanah yang basah dan subur. Deras air memanjakan telinga dengan gemersik-gemersik yang begitu akrab terdengar di telingaku. Hawa dingin mulai merasuki suhu dan tekanan udara. Jendela yang mulai basah dan berembun sempat membuatku merasa menggigil. Indah dan sejuknya hujan, mengingatkanku akan laki-laki itu. Lagi-lagi dia yang berhasil dengan mudah menyelinap masuk melewati lorong-lorong kosong hingga kesudut terpencil hatiku. Mengetuk pintu kokoh yang terbuat dari berlapis-lapis baja dan akhirnya bisa dihancurkan hanya dengan sebaris perhatian kecil yang dia berikan. Bodoh memang, bila seseorang telah terjerat dalam sesuatu yang bernama cinta. Saat jatuh cinta, hati lebih berperan dibandingkan akal, walaupun akal logika melarang, seringkali hati tidak menghiraukannya.
Dia datang dengan sejuta pesona yang membuatku mengira bahwa inilah cinta pada pandangan pertama. Laki-laki dengan postur tubuh tinggi layaknya seorang atlit basket nasional. Rambutnya yang tidak terlalu gondrong itu basah, seperti habis terkena cipratan air hujan. Laki-laki itu mengenakan jaket dan di dalamya nampak kemeja kotak-kotak lengan panjang dipadukan dengan jeans casual yang membuatku berpikir bahwa laki-laki ini sangat memperhatikan penampilannya. Bola mata coklatnya yang mampu menghipnotis dalam hitungan detik dan memiliki hidung layaknya perosotan di taman kanak-kanak. Sering kali laki-laki ini melihat jam berwarna hitam yang sejak tadi melingkar di lengannya. Kini, aroma parfumnya mulai bergerak untuk menyapa indra penciumanku. Senyum simpul yang melengkung dari bibir tipis miliknya mampu menyedot perhatian orang-orang disekitarnya. 
"Ini kapan berhentinya sih? Menggangu aktifitasku saja." Keluhku yang ternyata didengar olehnya.
Dia menatap kearahku sebentar sambil melipatkan kedua tangannya didada. "Ga baik loh, mengeluhkan keadaan. Disini semua orang menikmati hujan, kecuali kamu. Coba perhatikan orang-orang disekitarmu?"
Aku meliriknya dengan tatapan yang tidak menyenangkan. "Untuk apa?" Jawabku tak acuh.
"Agar kamu bisa menghargai waktu." Jawabnya dengan segala keseriusan yang terpancar jelas dalam raut wajahnya. "Aku sangat menyukai hujan, bagaimana denganmu?"
"Sudah ku bilang, hujan hanya dapat mengganggu akti...." Tiba-tiba kalimatku terpotong oleh ocehannya yang tidak memperhatikan seseorang ketika sedang berbicara.
"Dapat aku simpulkan kamu tidak menyukai hujan, bukan?"
"Tidak baik memotong pembicaraan yang belum selesai diungkapkan, mengerti?"
Dia tertunduk merasa bersalah atas perbuatannya. "Maafkan aku." Lalu dia merubah raut wajahnya seolah tidak seceria seperti sedia kala. "Aku sangat menyukai hujan, karena hujan itu membuatku merasa nyaman berada diantaranya. Tetapi, bukan untuk menyembunyikan kesedihanku. Saat hujan, kata orang zaman dahulu sih tandanya Tuhan sedang menurunkan rezeki untuk seseorang yang sedang bekerja." Sambil menatap hujan, dia terus menjelaskan alasannya menyukai hujan. "Hujan adalah hal teromantis yang pernah aku temui, karena pada saat itu sepasang kekasih bisa saling menghangatkan. Layaknya seperti kakek dan nenek itu!" Jarinya menunjuk ke salah satu arah tempat aku dan dirinya berteduh. "Mereka romantis bukan? Bisa berpelukan semesra itu? Menggenggam seakan waktu tidak akan pernah memisahkan keduanya. Namun hal itu tidak akan terjadi padaku, sebab aku tidak mempunyai seorang kekasih. Hujan juga yang mempertemukanku dengan seorang wanita yang mampu mengalihkan duniaku, wanita ini berbeda, tidak seperti kebanyakan wanita biasanya." Dia tertunduk lesu.
"Kamu sedang story telling atau sedang menceramahiku atau apapun? Tapi ibuku bilang kalau sedang berbicara dengan orang lain itu tataplah wajahnya!"
"Gimana mau tatap? Mukamu saja menyebalkan begitu, cuek seperti aku sedang melakukan kesalahan yang fatal. Tak acuh, seperti tidak ada seorang pun disampingmu. Menyebalkan, seperti seorang wanita yang sedang datang bulan."
"Oke, kali ini aku yang meminta maaf."
"Permintaan maaf diterima, mau bareng ke parkiran sama aku?" Ujarnya dengan mengalihkan pandangannya dan mulai menatapku dengan sorot mata yang meneduhkan.
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan menyelidik. Memperhatikan gerak-geriknya, bisa saja dia penjahat yang ingin menculikku. "Loh? Memangnya kamu bawa payung? Aku tidak melihat payung ditanganmu?" Tanyaku heran.
"Siapa bilang aku ingin ke parkiran pakai payung?"
"Lalu?"
"Pakai ini!" Jawab laki-laki itu sambil menunjuk jaket yang baru saja dilepasnya.
"Kamu bukan seorang laki-laki jahat dengan embel-embel melakukan kebaikan padaku karena ingin menculikku kan?"
"Kamu pikir aku segila itu?" Bantahnya dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.
"Baiklah, daripada aku harus menunggu lebih lama lagi disini."
Lagi-lagi senyuman itu, senyuman yang membuatku berharap untuk memiliki secercah harapan bahwa hari-hariku akan berwarna bila terus bersamanya. "Kamu beruntung bertemu denganku, mari!"
Aku termenung tanpa menjawab dan mempertanyakan apa maksud dari kalimat yang diucapkannya barusan. Seandainya saja aku dapat menghentikan waktu untuk saat ini. Tapi tunggu dulu, sebenarnya bukan waktu yang berjalan dengan cepat, hanya saja aku yang membuang-buang waktu, menunggu detik berikutnya dan berharap bahagia datang menyapaku. Kebetulan, diam-diam aku menyelinapkan kartu namaku di saku jaket miliknya.
Ketika menengok ke belakang, laki-laki itu lantas pergi dan menghilang diantara serbuan rintik-rintik hujan. Padahal, belum sempat aku mengucapkan terima kasih padanya. Laki-laki yang aneh dan misterius, namun menguras waktuku setiap kali teringat padanya.
#####

Hari berlalu tanpa aba-aba tertentu. Diselimuti oleh setiap kenang-kenangan manis yang nantinya akan menjadi sejarah dalam hidup, entah untuk diingat atau dilupakan. Kegiatanku selalu sama setiap harinya. Bekerja-Menulis-Makan-Mandi-Tidur-Memikirkanmu. Saat jam kosong diwaktu kerjaku, tak hentinya aku memutar kembali memori dalam otakku saat pertemuan petama kita kala itu. Diam-diam aku masih mencoba merapal senyum diwajahmu, mengingat caramu berbicara dengan kumis tipis yang bergetar perlahan saat kau mengucapkan satu persatu kata. Meski saat ini aku masih menatapmu dengan cinta yang malu-malu.
         Tiba-tiba terdengar ucapan seseorang yang membuyarkan lamunanku. "Ay, kok belum pulang?"
         "Eh iyah, coklat panasnya satu!" Jawabku latah.
Lawan bicaraku hanya tersenyum. "Wuss ngawur, ngelamunin apa sih?"
         "Ngga kok Ra."
        "Yasudah, aku pulang duluan ya!" Sambil melambaikan tangan ke arahku.
          Aku tersenyum simpul. "Iyah Ra, hati-hati di jalan, awas nanti di goda om om yang haus kasih sayang." Sambil tertawa jail aku mengucapkannya.
"Tidak ada yang berani mengganguku, ngomong-ngomong kamu juga hati-hati ya, takut ada hantu nakal yang ingin mengusik kesunyian malammu."
"Nauraaaaaa!!" Teriakku yang membuatnya tertawa lepas atas kemenangannya.
Naura Khansa. Dia adalah salah satu rekan kerjaku. Wanita idaman di kantor tempatku bekerja. Selain karena kerjanya yang selalu maksimal, dia juga wanita yang sangat ramah dan supel. Mempunyai tubuh yang sangat ideal bagi seorang wanita dengan tinggi sepertinya, ditambah lagi dengan parasnya yang cantik.
Acara melamunku kali ini pun berakhir dengan tidak berasahabat. Lantas, aku langsung melirik jam di tanganku. Jam setengah dua belas malam. Secepat kilat aku langsung merapikan meja kerjaku dan bergegas meninggalkan rumah kedua bagiku ini. Lagi-lagi membayangkan air hangat datang menyapaku di rumah, sesudahnya aku bercengkrama dengan kasur kesayanganku. Tetapi tunggu dulu, ada seseorang di sebrang sana, berdiri dengan menatap ke arah kantorku. Namun, begitu aku memergokinya, bayangannya itu mulai terlihat menjauh pergi diikuti oleh sinar lampu jalanan yang meneranginya. Sesosok laki-laki yang membuatku bertanya-tanya siapa kah dia dan apakah kepentingannya untuk datang kemari pada waktu yang sudah memasuki tengah malam ini?

#####
Matahari  mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulitku. Hanya sesekali angin medesah perlahan, membisikkan cerita-cerita nakal, melontarkan dongeng orang-orang yang ia sentuh kulitnya. Aku mencoba membasuh keringat yang mulai mengalir dari keningku.
Memasuki jam makan siang, aku dan Naura memutuskan untuk beristirahat di sebuah kedai makanan dan minuman yang tidak jauh dari kantor. Perempuan itu berjalan sangat lama, sebab setiap ada seseorang yang mengenalnya, seseorang itu selalu menyapa dan membuat percakapan singkat dengan dirinya. Mungkin karena dia adalah wanita yang sangat ramah. Aku berjalan mendahulinya dan duduk ditempat yang bagiku sangat nyaman untuk di jadikan persinggahan; di sofa dekat sebuah jendela.
Aku melamun memperhatikan Naura yang sedang berbincang dengan seseorang yang tak ku kenal, bukan tak kenal, hanya saja aku yang menutup diriku bergaul dengan orang lain disekitarku. Tiba-tiba terdengar getaran dari dalam tas kerjaku.
”Halo Nona. Jangan menanyakan darimana aku mendapatkan nomermu, karena aku sendiri pun tidak tau siapa yang mengirimkannya untukku, mungkin dewi fortuna.
Aku; seseorang yang menyukai hujan.”
Kini, ruang yang dipadati dengan begitu banyak manusia yang berpergian keluar masuk dari tempat ini, aroma makanan dan minuman yang memanjakan penciumanku, serta hiruk pikuk perbincangan yang memekakkan telinga, untuk saat ini satu diantaranya pun tidak terasa kehadirannya. Seperti disini hanya ada aku dan bayang-bayang dirimu yang semu. Aku terus tersenyum, tersenyum tanpa memperhatikan keadaan disekitarku. Tersenyum dan tak kunjung membalas pesan singkat darimu karena tanganku yang mendadak kaku bagai tak bisa mengetik sesuatu. Sampai saat ini aku masih menyimpan cinta dalam diam. Jatuh cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Saat cinta mulai datang dengan cara yang tidak terpikirkan, yang hanya bisa dilakukan hanyalah mempertahankannya.
Aku mulai menggerakkan jariku untuk membalas pesannya. "Kamu tidak berminat untuk mengacaukan hariku kan?"
Bip..bip..baru saja aku meletakkannya, kini si manis sudah kembali bergetar.
"Justru aku ini datang untuk menjadi sebab kebahagiaanmu."
Ternyata Naura sudah berada tepat dibelakangku, membaca setiap kata yang dikirimkan darinya untukku.
Dia mulai berdeham menjailiku. "Ekhem." Jarinya mulai mencolak-colek wajahku. "Halo nona, siapakah laki-laki itu? Apakah dia kekasih barumu?"
"Hmmm. Dia bukan kekasihku, aku hanya bertemu tanpa disengaja dengannya, hanya kebetulan."
Sambil mengerutkan wajahnya dan memasang mimik yang begitu menampakkan keingintahuannya. "Bukankah kamu sangat sensitif dengan orang baru?"
"Entahlah, dengannya aku merasa ada sesuatu hal yang berbeda."
Pelayan dengan seragam kebangsaan kedai ini pun datang menyambut lambaian tangan Naura padanya.
"Coklat panasnya satu ya, tetapi dengan kadar gula yang sedikit lebih manis atau lebih baik lagi ditengahnya ada gambar love yang diukir karena seseorang wanita disebelah saya ini sedang jatuh cinta mba." Naura tertawa lepas menggodaku.
"Itu kan pesanan langgananku Naura!!" Ujarku dengan nada yang sedikit memarahinya. "Sama pesan jus alpukat, ga pake gula mba tapi pemanisnya diganti dengan susu." Kami pun tertawa bersama. Kami berdua memang sudah telalu hapal setiap detail terkecil yang tidak dapat orang lain pahami tentang aku dan Naura. Pelayan itu hanya mampu tersenyum melihat tingkah laku kami.
Diam-diam ada yang seorang laki-laki yang memperhatikanku dari jauh, mengintip melalui kaca mobil miliknya. Aku tidak sempat mengingat setiap nomer yang tertera pada bagian depan dan belakang mobilnya. Aku rasa dia hanya sedang menunggu seseorang yang berada di kedai ini, bukan sedang memperhatikanku.
#####
Aku sampai pada titik terjenuhku. Aku memutuskan untuk keluar dan mencari udah segar disekitar kantor. Kebetulan, jam kerjaku tidak sepadat hari yang lalu. Aku butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dalam benakku yang tak kunjung menampakkan bagian akhir. Terutama tentang kamu. Sayangnya, membuatmu membalas rasa cintaku ternyata diluar daftar persoalan yang dapat aku selesaikan. Mataku terpana melihat betapa indahnya alam disekitarku. Meskipun hanya sebatas pohon-pohon dan danau kecil atau bisa dibilang seperti danau buatan. Bagiku itu sudah cukup untuk menjadi obat kejenuhanku. Daripada harus menyaksikan orang berlalu-lalang kesana kemari dengan kesibukkan mereka masing-masing. Layaknya seorang penonton pentas drama kehidupan di dunia.
Saat langit mulai berganti warna, saat sang surya mulai beranjak keperaduannya. Semilir angin mulai membelai tubuhku, dingin yang kurasakan, namun mataku terus memperhatikan burung merpati yang bertengger pada sebuah dahan. Mengapa merpati hanya singgah pada satu dahan yang kokoh? Sementara ia dapat terbang dengan bebas kemanapun yang ia inginkan? Jika ia dapat mengatakan sebuah kata, jawabannya hanya satu; nyaman. Rasa nyaman itulah yang membuatku tidak ingin pergi dan berlari mencari seseorang lagi. Aku tidak ingin terus mencari. Aku hanya perlu menunggu waktu untuk dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dibenakku.
Saat terdengar suara yang sudah lama aku rindukan, tiba-tiba saja dia datang ditengah kejenuhanku. Aku berpikir mungkin aku hanya berhalusinasi. Aku mecoba melihat ke kanan dan kiriku, namun tak ku jumpai ada seseorang disana. Tetapi kali ini suara itu lebih jelas terdengar, seperti perlahan-lahan sedang mencoba mendekat ke daun telingaku. 
"Tunggu dulu, tahan posisimu seperti itu, jangan melihat atau berbalik ke belakang!"
Aku tidak menolak perintah itu, aku hanya melakukannya tanpa merasa risih sedikitpun. Aku perhatikan letak posisiku. Menghadap sebuah danau dengan tangan dan tubuh bertumpu pada sebuah pagar pembatas antara danau dan jalan setapak yang baru saja ku lewati. Ada yang berbeda kali ini, matahari terlihat begitu bahagia dengan semburat sinar orange yang dipancarkannya.
"Kemari!" Ujar suara yang sudah lebih dahulu terdektesi oleh telingaku.
Aku membalikan badan dan terkejut melihatnya. Dia ada dihadapnku, laki-laki yang aku rindukan tanpa sengaja dikirimkan Tuhan untuk menjadi obat kejenuhanku. Dipertemukan dalam waktu yang tidak direncanakan. "Apakah ini pertanda?" Batinku dalam hati. Aku memperhatikan tubuhnya lekat-lekat, tidak ada yang berubah darinya, hanya saja aku melihat kamera DSLR yang ada dalam genggamannya.
"Kamu? Belum sempat aku mengucapkan terima kasih padamu waktu itu. Bukan tidak ingin mengucapkannya dalam tulisan, menurutku sepantasnya aku lebih baik mengucapakannya dalam lisan." Dia mulai beranjak dari posisinya semula. "Hai." Aku bersusah payah untuk mengeluarkan senyum terbaikku. "Aku Shaqeela Ayashalynda, tapi nampaknya kamu sudah mengetahui namaku. Terima kasih telah menolongku waktu itu, entah sebagai pangeran penyelamatku atau hanya keberuntunganku semata."
"Aku Saba Alfatih." Lagi-lagi senyum itu yang selalu diperlihatkannya, membuat bulan sabit kehilangan cahaya karena tertandingi oleh setiap lengkungan sempurna dari bibirnya. "Ngomong-ngomong soal waktu itu tidak masalah bagiku. Apalagi menolong tuan putri dari negeri dongeng."
Aku mecoba merubah suasana canggung dalam hatiku ini dan berharap aku bisa mengalihkan topik pembicaraan kita pada saat itu. Aku dan Saba berjalan mencari tempat duduk di sekitar taman.
"Kamu photographer atau hanya hobby foto?"
"Kebetulan yang di sampingmu ini memang seorang photographer."
"Pantas saja kamu memintaku untuk diam seperti tadi, ternyata aku dijadikan sebagai objek fotomu. Apa kamu selalu seperti itu? Meminta orang lain yang tidak kamu kenal untuk menjadi objek fotomu?" Aku tertunduk malu sambil mengayunkan kedua kakiku untuk menetralisir degupan jantung ini yang semakin kencang atau bahkan nyaris terdengar.
Dia hanya tersenyum. "Sekarang aku yang mengucapkan terima kasih karena kamu sudah mau menuruti perintahku, bahkan tanpa bertanya-tanya lagi. Tapi nampaknya seseorang disebelahku ini mulai banyak mengucapkan kata." 
Aku hanya tersipu malu merasakan perubahan dalam diriku yang memang berbeda setiap ada didekatnya. "Terima kasih kembali."
Percakapan demi percapakan mengalir begitu saja. Pergerakan angin mulai menyapa lembut melalui celah-celah pembicaraan yang ada diantara kita. Langit yang mulai menampakan warna terindahnya dan suara burung bernyanyi seakan melengkapi sore hari ini. Tidak terasa sudah setengah jam kita duduk berdua, sedekat ini. Aku hanya bisa berharap waktu terus berjalan diselipi cerita-cerita indah tentangmu, tentangku, yang aku tau akan berakhir bahagia.
"Ah itu dia!" Sambil menunjuk wanita dengan postur tubuh yang tidak lebih tinggi darinya. "Aku duluan ya! Hari sabtu aku akan mengunjungi rumahmu, jam 8 pagi." Sambil berjalan menghampiri wanita itu dan tanpa menoleh ke arahku lagi.
Yang diajak berbicara hanya mengangguk mengerti. Tetapi ada sesuatu yang aneh, wanita itu keluar dari tempatku bekerja. "Pasti itu kakaknya." Batinku dalam hati sambil meyakinkan diri.

#####
Semakin hari aku mulai percaya bahwa apa yang aku rasakan ini adalah cinta. Aku dan Saba telah melalui hari bersama, telah berusaha membangun percakapan-percakapan yang tidak membosankan. Namun, sampai saat ini belum ada kejelasan dibalik semua itu. Aku sebagai wanita hanya mampu diam dan menunggu, orang bilang ini sudah zaman emansipasi wanita, agar wanita mampu menyatakan perasaannya lebih dahulu, tetapi bagiku untuk melakukan hal yang sulit itu tidaklah mudah bagai membuat ranting yang patah menjadi untuh kembali.
Sedari tadi aku berimajinasi bahwa diriku adalah seekor kupu-kupu. Saat ini, kupu-kupu yang indah menari-nari di depan wajahku. Berwarna-warni dan membuatku terhanyut dalam irama yang diciptakan oleh kupu-kupu itu. Kupu-kupu berterbangan, bekejaran tiada henti, seolah menggambarkan kehidupan yang terus berjalan dan berlari. Ketika aku sudah mulai merasa letih, aku berhenti menari bersama kupu-kupu. Sekawanan kupu-kupu itu mengerti dan mereka berpencar untuk mencari bunga yang akan dihisap madunya. Aku pun berbaring perlahan diatas rerumputan sambil memejamkan mataku.
Bip..bip...Aku membuka pesan masuk yang menyebabkan dering dihandphoneku. "Jangan lupa hari sabtu ya Ayasha:)" aku hanya tersenyum dan tidak membalasnya. Lantas ku lihat jam di layar handphoneku, jam setengah sepuluh malam.
Naura sudah lebih dulu meninggalkanku di kantor ini. Seperti yang aku ceritakan, dia memang seorang wanita yang mengerjakan semua pekerjaannya dengan maksimal, bahkan sebelum batas waktu yang ditentukan pun dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku perhatikan dari mimik wajahnya, nampaknya Naura sedang terlibat dalam persoalan asmara. Membuat raut wajahnya terlihat lebih mempesona, karena selalu dibalut oleh kebahagiaan-kebahagiaan tentang persoalan cintanya.
#####
Matahari menelusup pelan di balik jendela kamarku. Hari ini, aku sengaja bangun pagi-pagi. Aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan mulai berjalan jinjit menuju kamar mandi agar aku tidak membuat kegaduhan di dalam rumah pada pagi hari ini. Selesai menyegarkan tubuh. Aku mengacak-acak lemari pakaianku dan mencari baju apa yang cocok untuk aku kenakan hari ini. Seperti kebanyakan dari perempuan yang selalu sibuk berdadan untuk diajak kencan oleh seorang laki-laki, walaupun dia bukan bagian yang berarti dalam hidup laki-laki itu, dia tetap harus memperlihatkan penampilan yang maksimal didepannya.
Matahari merangkak tinggi, larik-larik cahayanya jatuh membasuh dan menjelma menjadi keping-keping cahaya di tanah ketika membentur dedaunan pohon yang bergetar-getar. Kali ini kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan melukis diatas pasir yang diikuti oleh alur cerita didalamnya dengan judul "Aku Harap Kamu Tau". Cerita itu mengisahkan suka dan duka menyembunyikan cinta dalam diam. Dimana seseorang hanya mampu menatap dari balik pagar, tanpa pernah benar-benar nyata dalam benak orang yang sangat ia sayangi. Kesedihan dan semua yang ada sangkut pautnya dengan hati hanya bisa ia rasakan dan ditelan sendiri. Mencoba meminta kejelasan namun tak ingin bila akhirnya itu akan menyakitan. Hanya bisa diam, menatap langit senja yang terus menyembunyikan matahari didalamnya. Tentang pengorbanan jatuh cinta dalam diam, yang lebih berperan dan menyita begitu banyak ruang dan waktu.
Kita berjalan pulang menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari gedung pementasan tadi. Tiba-tiba aku mengumpulkan semua keberanianku, untuk menanyakan sesuatu hal padanya. "Sebenarnya kita sudah sedekat ini, kamu anggap aku apa? Temankah? Sahabatkah? Atau apa?"
"Aku menganggapmu yang jelas lebih dari sahabatlah." Dia menyatakannya sambil membelai lembut rambutku. Aku hanya mencoba diam dan tidak bersuara karena takut menimbulkan hal yang membuatku dengan tidak sadar memberi sinyal padanya. Sungguh, itu bukan karakterku.
#####
Barisan kalimat hitam penuh makna memenuhi lembar kosong dalam diaryku ini. Mewakili apa saja yang tidak mampu aku sampaikan padamu. Hari berlalu seiring berjalannya waktu. Kita sudah sedekat ini. Kamu selalu menceritakan padaku tentang sosok wanita idamanmu. Melalui pesan singkat yang setiap hari kau kirimkan padaku, membuatku yakin bahwa kau memiliki rasa yang sama seperti apa yang ku rasa. Rangkaian kalimat manis yang tertulis, nyaris tidak dapat membuatku tertidur nyenyak akhir-akhir ini karena selalu saja membuatku tersenyum setiap kali mengingatnya. Kita sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan kau sudah mengenalkanku kepada kedua orang tuamu, meski tanpa kejelasan yang aku harapkan.
Aku beranjak dari kursi tempatku bekerja. Mendekati jendela dan berharap dalam kesunyian malam. Tiba-tiba saja handphoneku berdering.
"Aku lagi diparkiran kantormu nih, ada yang ingin aku sampaikan. Pasti kamu senang sekali mendengarnya."
Otakku mencoba menebak-nebak kejutan apa yang akan dia buat. Tiba-tiba saja wujudnya sudah berada di depan pandanganku.
"Hei." Aku memperhatikan dari jauh sosoknya yang sedang memberi sapaan hangat kepada seseorang.
"Sudah lama menunggu?" Tanya seseorang wanita dihadapannya yang ternyata adalah Naura.
Saba mengeluarkan senyum tebaiknya. Perlahan tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Aku nyaris terbelak melihat drama yang baru saja aku saksikan itu. Kemudian aku perhatikan gerak gerik mereka, mencoba mengerti lebih dalam lagi apa arti sebuah genggaman yang mengisyaratkan mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain. Mataku tertuju pada cincin permata dijari manis Naura yang berkilau dan tidak pernah ia kenakan sebelumnya. Saba mencium kening Naura dengan lembut, mendaratkan tangannya untuk membelai rambut Naura. Hal itu membuat hati ini yakin bahwa mereka telah mempunyai hubungan khusus, atau lebih tepatnya mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Jadi itu wujud nyata laki-laki yang membuat Naura merasakan bunga dalam hatinya mulai bermekaran.
Rasanya bagai memikul sekarung perasaan dipunggung yang akhirnya karung itu sudah terlalu lelah dipikul sendirian dan jatuh tidak ada yang menadahnya. Waktu terlalu cepat untuk dihentikan, terlalu sulit untuk dibalikkan dan terlalu rumit untuk dilupakan. Mengapa selalu wanita? Mengapa selalu wanita yang menunggu dalam kesepian, menanti dalam kesunyian dan berharapa dalam kekosongan. Mungkin aku menjadi objek dalam fotomu, tetapi aku tidak akan pernah menjadi objek dalam hatimu.
Saba terlihat bahagia saat mendapati diriku ada dibalik jendela yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia lantas saja berlari menghampiriku. "Ay, aku akan segera menikah, bagaimana? Kamu senang bukan melihat kakakmu ini bahagia?"
"Kakak? Ternyata yang lebih dari sahabat itu aku hanya dianggapnya sebagai adik." Aku bertanya dalam hati. Tersenyum sambil mengangguk menatap Saba. Mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata dihadapannya. Aku memang orang yang pendiam. Diam-diam aku jatuh cinta kepadamu dan diam-diam aku menahan perih karenamu. Air mata yang sudah tidak mampu dibendung lagi akhirnya mengalir begitu derasnya. Bahkan tubuhku mulai tak berasa bahwa ada rangka di dalamnya. Karena cinta bisa mati suatu saat jika hanya merawatnya sedirian.
"Kamu kenapa? Jangan sedih dong, kita akan tetap bertemu, aku tetap akan memberi perhatian lebih padamu, kamu orang yang sangat spesial untukku, paling aku sayangi karena bagiku kamu itu seperti adik kandungku sendiri." Dia mengulurkan tangan kanannya untuk masuk melaui celah jendela dan berusaha sebisanya menghapus air mataku. Tangannya mulai berani menelusuri setiap lekukan dihidungku dan mencubitnya seakan ingin berusaha membuatku tersenyum kembali.
"Ini air mata kebahagiaanku Saba." Ucapku bodoh membohongi perasaanku sendiri dan tersenyum padahal hati ini menangis terisak.
Saba mengalihkan pandangannya dariku dan mulai pergi untuk menghampiri Naura. Mereka tersenyum bahagia sambil melambaikan tangan dan memamerkan kemesraannya padaku. Aku hanya bisa menyembunyikan kesedihan dalam senyum yang ku buat ini. Aku tidak bisa menyalahkan Naura, karena memang dari awal Naura tidak mengetahui siapa laki-laki yang benar-benar ku     sayangi. Lagi pula aku harus belajar menerima, apa salahnya sahabatku bahagia dengan kekasih pilihannya.
Yang terlalu percaya diri akhirnya jatuh ke dalam jurang, karena saat jatuh cinta akal logika akan benar-benar berhenti bejalan. Lantas, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang tidak pernah kau miliki? Ini adalah sepenggal rasa yang telah ku simpan sejak lama. Sepenggal rasa yang tak kunjung tersampaikan pada tuannya. Sampai ujung perpisahan pun, aku tetap berdiri dalam diam, jauh dibelakangnya.
Sementara di atap yang berbeda, Saba mulai mengayunkan jemarinya untuk menulis diatas lembar kertas putih yang baru saja keluar dari pabriknya.
Teruntuk Ayasha,
Bukan salah takdir yang tidak membuat kita menyatu. Bukan salah kau atau aku yang tidak kunjung mengungkapkan sesuatu. Mungkin kau bertanya-tanya bagaimana aku bisa tau tentang perasaanmu padaku. Kamu ingat pertunjukan melukis diatas pasir kala itu? Saat kau menitipkan handphonemu padaku? Aku tidak sengaja membukanya dan mendapati ukiran indah namaku yang telah kau buat. "Aku mencintaimu, Saba". Begitu banyak sekat diantara kita dan setiap tanganku yang terulur ingin mendekapmu, selalu kembali melunglai sia-sia. Meski diam-diam aku selalu menatapmu dengan cinta yang meneteskan rindu. Aku tidak ingin kau beranggapan bahwa aku akan membalas perasaanmu dengan menjadikan kau kekasih hatiku. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu benar-benar tak ingin kita berpisah atau pun bertengkar karena ikatan sepasang kekasih yang telah aku ciptakan. Begitu banyak kekasihku diluar sana yang berakhir sama seperti sebelumnya. Bukan berarti aku ingin mempermainkan Naura, tidak, tidak seperti itu.  Aku ingin membuatmu terus menatap sahabatmu bahkan sampai kamu tidak sanggup lagi menjalani kehidupan di dunia ini. Aku yang selalu mencoba memastikan keadaanmu, sehingga setiap hari aku berusaha datang ke tempatmu bekerja, untuk sekadar mengintip atau bahkan melihatmu tertawa. Itulah yang membuatku mengetahui bahwa seorang wanita yang selalu menemanimu adalah seorang sahabat bagimu, yang membuatku menjadikannya kekasih hatiku. Aku mencintaimu, namun perasaan ini jauh lebih dalam daripada yang kau rasakan, oleh sebab itu aku ingin membuatmu menjadi adikku, adik kandungku. Karena dengan itu aku akan selalu menjagamu, melindungi, dan tidak akan menyakitimu. Tanpa membuat kita bertengar mengenai soal cinta, tanpa membuat kita menjalani berbagai persoalan-persoalan rumah tangga. Mulai saat ini aku tidak perlu ragu untuk memelukmu karena aku sudah memberi kejelasan yang pasti padamu. Kamu tau alasan lain mengapa aku menyukai hujan? Itu karena hujan yang mempertemukanku dengan sosokmu. Mencintai bukan hanya mengingat tetapi juga mendoakan orang yang kita cintai meski tidak bisa bersama. Ada sesuatu hal yang tidak dapat diraih kembali yaitu waktu yang telah beranjak pergi. Aku harap kamu selalu menghargai setiap satu detik, dua detik, tiga detik bahkan sampai detik-detik berikutnya. Aku ingin kamu mengetahui yang sebenarnya setelah waktu tidak lagi tersisa untukku.
Aku; seseorang yang menyukai hujan.