Malam
ini langit tidak seperti biasanya. Tidak dikelilingi oleh cahaya bintang malam,
bahkan tidak ada sang purnama. Padahal aku ingin sekali menceritakan setumpuk
asa yang sedaritadi telah bergerumul dalam benakku. Aku menggigit ujung pulpen
berwarna putih milikku. Sambil mengerutkan wajah dan sesekali mataku
terkelap-kelip, seperti seorang ahli politik yang sedang memikirkan masalah
negara.
Jarum
jam memainkan irama dengan ketukan yang perlahan. Tik tok tik tok. Sama
iramanya dengan degupan jantung dan helaan nafasku yang turun
naik. Aku menghela nafas panjang. Tidak terasa sudah tiga jam aku
berkhayal di
jendela kamarku. Memikirkan berbagai masalah yang otakku sendiri pun
tidak
dapat mengingatnya. Jari jemariku mulai menelusuri jendala kamarku.
Curah
lembut hujan jatuh ditempatnya; tanah yang basah dan subur. Deras air
memanjakan telinga dengan gemersik-gemersik yang begitu akrab terdengar
di
telingaku. Hawa dingin mulai merasuki suhu dan tekanan udara. Jendela
yang
mulai basah dan berembun sempat membuatku merasa menggigil. Indah dan
sejuknya
hujan, mengingatkanku akan laki-laki itu. Lagi-lagi dia yang berhasil
dengan
mudah menyelinap masuk melewati lorong-lorong kosong hingga kesudut
terpencil
hatiku. Mengetuk pintu kokoh yang terbuat dari berlapis-lapis baja dan
akhirnya
bisa dihancurkan hanya dengan sebaris perhatian kecil yang dia berikan.
Bodoh
memang, bila seseorang telah terjerat dalam sesuatu yang bernama cinta.
Saat
jatuh cinta, hati lebih berperan dibandingkan akal, walaupun akal logika
melarang, seringkali hati tidak menghiraukannya.
Dia datang dengan sejuta pesona yang membuatku mengira bahwa
inilah cinta pada pandangan pertama. Laki-laki dengan postur tubuh tinggi
layaknya seorang atlit basket nasional. Rambutnya yang tidak terlalu gondrong
itu basah, seperti habis terkena cipratan air hujan. Laki-laki itu mengenakan
jaket dan di dalamya nampak kemeja kotak-kotak lengan panjang dipadukan dengan
jeans casual yang membuatku berpikir bahwa laki-laki ini sangat memperhatikan
penampilannya. Bola mata coklatnya yang mampu menghipnotis dalam hitungan detik
dan memiliki hidung layaknya perosotan di taman kanak-kanak. Sering kali
laki-laki ini melihat jam berwarna hitam yang sejak tadi melingkar di
lengannya. Kini, aroma parfumnya mulai bergerak untuk menyapa indra
penciumanku. Senyum simpul yang melengkung dari bibir tipis miliknya mampu
menyedot perhatian orang-orang disekitarnya.
"Ini kapan berhentinya sih? Menggangu aktifitasku
saja." Keluhku yang ternyata didengar olehnya.
Dia menatap kearahku sebentar sambil melipatkan kedua
tangannya didada. "Ga baik loh, mengeluhkan keadaan. Disini semua orang
menikmati hujan, kecuali kamu. Coba perhatikan orang-orang disekitarmu?"
Aku meliriknya dengan tatapan yang tidak
menyenangkan. "Untuk apa?" Jawabku tak acuh.
"Agar kamu bisa menghargai waktu." Jawabnya dengan
segala keseriusan yang terpancar jelas dalam raut wajahnya. "Aku sangat menyukai hujan, bagaimana denganmu?"
"Sudah ku bilang, hujan hanya dapat mengganggu
akti...." Tiba-tiba kalimatku terpotong oleh ocehannya yang tidak
memperhatikan seseorang ketika sedang berbicara.
"Dapat aku simpulkan kamu tidak menyukai hujan,
bukan?"
"Tidak baik memotong pembicaraan yang belum selesai
diungkapkan, mengerti?"
Dia tertunduk merasa bersalah atas perbuatannya.
"Maafkan aku." Lalu dia merubah raut wajahnya seolah tidak seceria
seperti sedia kala. "Aku sangat menyukai hujan, karena hujan itu membuatku
merasa nyaman berada diantaranya. Tetapi, bukan untuk menyembunyikan
kesedihanku. Saat hujan, kata orang zaman dahulu sih tandanya Tuhan sedang
menurunkan rezeki untuk seseorang yang sedang bekerja." Sambil menatap
hujan, dia terus menjelaskan alasannya menyukai hujan. "Hujan adalah hal
teromantis yang pernah aku temui, karena pada saat itu sepasang kekasih bisa
saling menghangatkan. Layaknya seperti kakek dan nenek itu!" Jarinya
menunjuk ke salah satu arah tempat aku dan dirinya berteduh. "Mereka
romantis bukan? Bisa berpelukan semesra itu? Menggenggam seakan waktu tidak
akan pernah memisahkan keduanya. Namun hal itu tidak akan terjadi padaku, sebab
aku tidak mempunyai seorang kekasih. Hujan juga yang mempertemukanku dengan
seorang wanita yang mampu mengalihkan duniaku, wanita ini berbeda, tidak seperti
kebanyakan wanita biasanya." Dia tertunduk lesu.
"Kamu sedang story telling atau sedang menceramahiku
atau apapun? Tapi ibuku bilang kalau sedang berbicara dengan orang lain itu
tataplah wajahnya!"
"Gimana mau tatap? Mukamu saja menyebalkan begitu, cuek
seperti aku sedang melakukan kesalahan yang fatal. Tak acuh, seperti tidak ada
seorang pun disampingmu. Menyebalkan, seperti seorang wanita yang sedang datang
bulan."
"Oke, kali ini aku yang meminta maaf."
"Permintaan maaf diterima, mau bareng ke parkiran
sama aku?" Ujarnya dengan mengalihkan pandangannya dan mulai menatapku dengan
sorot mata yang meneduhkan.
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan menyelidik.
Memperhatikan gerak-geriknya, bisa saja dia penjahat yang ingin menculikku. "Loh? Memangnya kamu bawa payung?
Aku tidak melihat payung ditanganmu?" Tanyaku heran.
"Siapa bilang aku ingin ke parkiran pakai payung?"
"Lalu?"
"Pakai ini!" Jawab laki-laki itu sambil menunjuk
jaket yang baru saja dilepasnya.
"Kamu bukan seorang laki-laki jahat dengan embel-embel
melakukan kebaikan padaku karena ingin menculikku kan?"
"Kamu pikir aku segila itu?" Bantahnya dengan nada
yang berbeda dari sebelumnya.
"Baiklah, daripada aku harus menunggu lebih lama lagi
disini."
Lagi-lagi senyuman itu, senyuman yang membuatku berharap untuk memiliki secercah harapan bahwa
hari-hariku akan berwarna bila terus bersamanya. "Kamu beruntung bertemu
denganku, mari!"
Aku termenung tanpa menjawab dan mempertanyakan apa maksud
dari kalimat yang diucapkannya barusan. Seandainya saja aku dapat menghentikan
waktu untuk saat ini. Tapi tunggu dulu, sebenarnya bukan waktu yang berjalan
dengan cepat, hanya saja aku yang membuang-buang waktu, menunggu detik
berikutnya dan berharap bahagia datang menyapaku. Kebetulan, diam-diam aku
menyelinapkan kartu namaku di saku jaket miliknya.
Ketika
menengok ke belakang, laki-laki itu lantas pergi dan
menghilang diantara serbuan rintik-rintik hujan. Padahal, belum sempat
aku mengucapkan terima kasih padanya. Laki-laki yang aneh dan
misterius, namun menguras waktuku setiap kali teringat padanya.
#####
Hari berlalu tanpa aba-aba tertentu. Diselimuti oleh setiap
kenang-kenangan
manis yang nantinya akan menjadi sejarah dalam hidup, entah untuk
diingat atau dilupakan. Kegiatanku selalu sama setiap harinya.
Bekerja-Menulis-Makan-Mandi-Tidur-Memikirkanmu. Saat jam kosong
diwaktu kerjaku, tak hentinya aku memutar kembali memori dalam otakku
saat pertemuan petama kita kala itu. Diam-diam aku masih mencoba
merapal senyum diwajahmu, mengingat caramu berbicara dengan kumis tipis
yang
bergetar perlahan saat kau mengucapkan satu persatu kata. Meski saat ini
aku
masih menatapmu dengan cinta yang malu-malu.
Tiba-tiba terdengar ucapan seseorang yang
membuyarkan lamunanku. "Ay, kok belum pulang?"
"Eh iyah, coklat panasnya
satu!" Jawabku latah.
Lawan bicaraku hanya tersenyum. "Wuss ngawur,
ngelamunin apa sih?"
"Ngga kok Ra."
"Yasudah, aku pulang duluan
ya!" Sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku tersenyum simpul.
"Iyah Ra, hati-hati di jalan, awas nanti di goda om om yang haus kasih
sayang." Sambil tertawa jail aku mengucapkannya.
"Tidak ada yang berani mengganguku, ngomong-ngomong
kamu juga hati-hati ya, takut ada hantu nakal yang ingin mengusik kesunyian
malammu."
"Nauraaaaaa!!" Teriakku yang membuatnya tertawa
lepas atas kemenangannya.
Naura Khansa. Dia adalah salah satu rekan kerjaku. Wanita
idaman di kantor tempatku bekerja. Selain karena kerjanya yang selalu maksimal,
dia juga wanita yang sangat ramah dan supel. Mempunyai tubuh yang sangat ideal
bagi seorang wanita dengan tinggi sepertinya, ditambah lagi dengan parasnya yang cantik.
Acara melamunku kali ini pun berakhir dengan tidak
berasahabat. Lantas, aku langsung melirik jam di tanganku. Jam setengah dua
belas malam. Secepat kilat aku langsung merapikan meja kerjaku dan bergegas meninggalkan
rumah kedua bagiku ini. Lagi-lagi membayangkan air hangat datang menyapaku di
rumah, sesudahnya aku bercengkrama dengan kasur kesayanganku. Tetapi tunggu
dulu, ada seseorang di sebrang sana, berdiri dengan menatap ke arah kantorku.
Namun, begitu aku memergokinya, bayangannya itu mulai terlihat menjauh pergi
diikuti oleh sinar lampu jalanan yang meneranginya. Sesosok laki-laki yang
membuatku bertanya-tanya siapa kah dia dan apakah kepentingannya untuk datang
kemari pada waktu yang sudah memasuki tengah malam ini?
#####
Matahari
mengalirkan rasa panasnya, meraung ganas menggigit kulitku. Hanya
sesekali angin medesah perlahan, membisikkan cerita-cerita nakal, melontarkan
dongeng orang-orang yang ia sentuh kulitnya. Aku mencoba membasuh keringat yang
mulai mengalir dari keningku.
Memasuki jam makan siang, aku dan Naura memutuskan untuk
beristirahat di sebuah kedai makanan dan minuman yang tidak jauh dari kantor.
Perempuan itu berjalan sangat lama, sebab setiap ada seseorang yang
mengenalnya, seseorang itu selalu menyapa dan membuat percakapan singkat dengan
dirinya. Mungkin karena dia adalah wanita yang sangat ramah. Aku berjalan
mendahulinya dan duduk ditempat yang bagiku sangat nyaman untuk di jadikan
persinggahan; di sofa dekat sebuah jendela.
Aku melamun memperhatikan Naura yang sedang berbincang
dengan seseorang yang tak ku kenal, bukan tak kenal, hanya saja aku yang
menutup diriku bergaul dengan orang lain disekitarku. Tiba-tiba terdengar
getaran dari dalam tas kerjaku.
”Halo Nona. Jangan menanyakan
darimana aku mendapatkan nomermu, karena aku sendiri pun tidak tau siapa yang
mengirimkannya untukku, mungkin dewi fortuna.
Aku;
seseorang yang menyukai hujan.”
Kini, ruang yang dipadati dengan begitu banyak manusia yang
berpergian keluar masuk dari tempat ini, aroma makanan dan minuman yang
memanjakan penciumanku, serta hiruk pikuk perbincangan yang memekakkan telinga,
untuk saat ini satu diantaranya pun tidak terasa kehadirannya. Seperti disini
hanya ada aku dan bayang-bayang dirimu yang semu. Aku terus tersenyum,
tersenyum tanpa memperhatikan keadaan disekitarku. Tersenyum dan tak kunjung
membalas pesan singkat darimu karena tanganku yang mendadak kaku bagai tak bisa
mengetik sesuatu. Sampai saat ini aku masih menyimpan cinta dalam diam. Jatuh
cinta memang tidak semudah yang dibayangkan. Saat cinta mulai datang dengan
cara yang tidak terpikirkan, yang hanya bisa dilakukan hanyalah
mempertahankannya.
Aku mulai menggerakkan jariku untuk membalas pesannya.
"Kamu tidak berminat untuk mengacaukan hariku kan?"
Bip..bip..baru saja aku meletakkannya, kini si manis sudah
kembali bergetar.
"Justru aku ini datang untuk menjadi sebab
kebahagiaanmu."
Ternyata Naura sudah berada tepat dibelakangku, membaca
setiap kata yang dikirimkan darinya untukku.
Dia mulai berdeham menjailiku. "Ekhem." Jarinya mulai mencolak-colek wajahku. "Halo nona, siapakah laki-laki itu?
Apakah dia kekasih barumu?"
"Hmmm. Dia bukan kekasihku, aku hanya bertemu tanpa
disengaja dengannya, hanya kebetulan."
Sambil mengerutkan wajahnya dan memasang mimik yang begitu
menampakkan keingintahuannya. "Bukankah kamu sangat sensitif dengan orang
baru?"
"Entahlah, dengannya aku merasa ada sesuatu hal yang
berbeda."
Pelayan dengan seragam kebangsaan kedai ini pun datang menyambut lambaian tangan Naura padanya.
"Coklat panasnya satu ya, tetapi dengan kadar gula yang
sedikit lebih manis atau lebih baik lagi ditengahnya ada gambar love yang
diukir karena seseorang wanita disebelah saya ini sedang jatuh cinta mba."
Naura tertawa lepas menggodaku.
"Itu kan pesanan langgananku Naura!!" Ujarku
dengan nada yang sedikit memarahinya. "Sama pesan jus alpukat, ga pake
gula mba tapi pemanisnya diganti dengan susu." Kami pun tertawa bersama.
Kami berdua memang sudah telalu hapal setiap detail terkecil yang tidak dapat
orang lain pahami tentang aku dan Naura. Pelayan itu hanya mampu tersenyum
melihat tingkah laku kami.
Diam-diam ada yang seorang laki-laki yang memperhatikanku
dari jauh, mengintip melalui kaca mobil miliknya. Aku tidak sempat mengingat
setiap nomer yang tertera pada bagian depan dan belakang mobilnya. Aku rasa dia
hanya sedang menunggu seseorang yang berada di kedai ini, bukan sedang
memperhatikanku.
#####
Aku
sampai pada titik terjenuhku. Aku
memutuskan untuk keluar dan mencari udah segar disekitar kantor. Kebetulan, jam
kerjaku tidak sepadat hari yang lalu. Aku butuh lebih banyak waktu untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan dalam benakku yang tak kunjung menampakkan
bagian akhir. Terutama tentang kamu. Sayangnya, membuatmu membalas rasa cintaku
ternyata diluar daftar persoalan yang dapat aku selesaikan. Mataku terpana
melihat betapa indahnya alam disekitarku. Meskipun hanya sebatas pohon-pohon
dan danau kecil atau bisa dibilang seperti danau buatan. Bagiku itu sudah cukup
untuk menjadi obat kejenuhanku. Daripada harus menyaksikan orang berlalu-lalang
kesana kemari dengan kesibukkan mereka masing-masing. Layaknya seorang penonton
pentas drama kehidupan di dunia.
Saat
langit mulai berganti warna, saat sang surya mulai
beranjak keperaduannya. Semilir angin mulai membelai tubuhku, dingin
yang
kurasakan, namun mataku terus memperhatikan burung merpati yang
bertengger pada
sebuah dahan. Mengapa merpati hanya singgah pada satu dahan yang kokoh?
Sementara ia dapat terbang dengan bebas kemanapun yang ia inginkan? Jika
ia
dapat mengatakan sebuah kata, jawabannya hanya satu; nyaman. Rasa nyaman
itulah
yang membuatku tidak ingin pergi dan berlari mencari seseorang lagi. Aku
tidak ingin terus mencari. Aku hanya perlu menunggu waktu untuk
dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dibenakku.
Saat terdengar suara yang sudah lama aku rindukan, tiba-tiba
saja dia datang ditengah kejenuhanku. Aku berpikir mungkin aku hanya
berhalusinasi. Aku mecoba melihat ke kanan dan kiriku, namun tak ku jumpai ada
seseorang disana. Tetapi kali ini suara itu lebih jelas terdengar, seperti
perlahan-lahan sedang mencoba mendekat ke daun telingaku.
"Tunggu dulu, tahan posisimu seperti itu, jangan
melihat atau berbalik ke belakang!"
Aku tidak menolak perintah itu, aku hanya melakukannya tanpa merasa risih sedikitpun. Aku perhatikan letak posisiku. Menghadap
sebuah danau dengan tangan dan tubuh bertumpu pada sebuah pagar pembatas antara
danau dan jalan setapak yang baru saja ku lewati. Ada yang berbeda kali ini,
matahari terlihat begitu bahagia dengan semburat sinar orange yang
dipancarkannya.
"Kemari!" Ujar suara yang sudah lebih dahulu
terdektesi oleh telingaku.
Aku
membalikan badan dan terkejut melihatnya. Dia ada dihadapnku, laki-laki
yang aku rindukan tanpa sengaja dikirimkan Tuhan untuk menjadi
obat kejenuhanku. Dipertemukan dalam waktu yang tidak direncanakan.
"Apakah ini pertanda?" Batinku dalam hati. Aku memperhatikan tubuhnya
lekat-lekat, tidak ada yang berubah darinya, hanya saja aku melihat
kamera DSLR
yang ada dalam genggamannya.
"Kamu? Belum sempat aku mengucapkan terima kasih padamu
waktu itu. Bukan tidak ingin mengucapkannya dalam tulisan, menurutku sepantasnya
aku lebih baik mengucapakannya dalam lisan." Dia mulai beranjak dari
posisinya semula. "Hai." Aku bersusah payah untuk mengeluarkan senyum
terbaikku. "Aku Shaqeela Ayashalynda, tapi nampaknya kamu sudah mengetahui
namaku. Terima kasih telah menolongku waktu itu, entah sebagai pangeran
penyelamatku atau hanya keberuntunganku semata."
"Aku Saba Alfatih." Lagi-lagi senyum itu yang selalu diperlihatkannya, membuat bulan sabit kehilangan cahaya karena
tertandingi oleh setiap lengkungan sempurna dari bibirnya.
"Ngomong-ngomong soal waktu itu tidak masalah bagiku. Apalagi menolong
tuan putri dari negeri dongeng."
Aku mecoba merubah suasana canggung dalam hatiku ini dan
berharap aku bisa mengalihkan topik pembicaraan kita pada saat itu. Aku dan
Saba berjalan mencari tempat duduk di sekitar taman.
"Kamu photographer atau hanya hobby foto?"
"Kebetulan yang di sampingmu ini memang seorang
photographer."
"Pantas saja kamu memintaku untuk diam seperti tadi,
ternyata aku dijadikan sebagai objek fotomu. Apa kamu selalu seperti itu?
Meminta orang lain yang tidak kamu kenal untuk menjadi objek fotomu?" Aku
tertunduk malu sambil mengayunkan kedua kakiku untuk menetralisir degupan
jantung ini yang semakin kencang atau bahkan nyaris terdengar.
Dia hanya tersenyum. "Sekarang aku yang mengucapkan
terima kasih karena kamu sudah mau menuruti perintahku, bahkan tanpa
bertanya-tanya lagi. Tapi nampaknya seseorang disebelahku ini mulai banyak
mengucapkan kata."
Aku hanya tersipu malu merasakan perubahan dalam diriku yang
memang berbeda setiap ada didekatnya. "Terima kasih kembali."
Percakapan demi percapakan mengalir begitu saja. Pergerakan
angin mulai menyapa lembut melalui celah-celah pembicaraan yang ada diantara
kita. Langit yang mulai menampakan warna terindahnya dan suara burung bernyanyi
seakan melengkapi sore hari ini. Tidak terasa sudah setengah jam kita
duduk berdua, sedekat ini. Aku hanya bisa berharap waktu terus
berjalan diselipi cerita-cerita indah tentangmu, tentangku, yang aku tau akan
berakhir bahagia.
"Ah itu dia!" Sambil menunjuk wanita dengan postur
tubuh yang tidak lebih tinggi darinya. "Aku duluan ya! Hari sabtu aku akan
mengunjungi rumahmu, jam 8 pagi." Sambil berjalan menghampiri wanita itu
dan tanpa menoleh ke arahku lagi.
Yang diajak berbicara hanya mengangguk mengerti. Tetapi ada
sesuatu yang aneh, wanita itu keluar dari tempatku bekerja. "Pasti itu
kakaknya." Batinku dalam hati sambil meyakinkan diri.
#####
Semakin
hari
aku mulai percaya bahwa apa yang aku rasakan ini adalah cinta. Aku dan
Saba telah melalui hari bersama, telah berusaha membangun
percakapan-percakapan yang tidak membosankan. Namun, sampai saat ini
belum ada kejelasan
dibalik semua itu. Aku sebagai wanita hanya mampu diam dan menunggu,
orang
bilang ini sudah zaman emansipasi wanita, agar wanita mampu menyatakan
perasaannya lebih dahulu, tetapi bagiku untuk melakukan hal yang sulit
itu
tidaklah mudah bagai membuat ranting yang patah menjadi untuh kembali.
Sedari tadi aku berimajinasi bahwa diriku adalah seekor
kupu-kupu. Saat ini, kupu-kupu yang indah menari-nari di depan wajahku.
Berwarna-warni dan membuatku terhanyut dalam irama yang diciptakan oleh kupu-kupu
itu. Kupu-kupu berterbangan, bekejaran tiada henti, seolah menggambarkan
kehidupan yang terus berjalan dan berlari. Ketika aku sudah mulai merasa letih,
aku berhenti menari bersama kupu-kupu. Sekawanan kupu-kupu itu mengerti dan
mereka berpencar untuk mencari bunga yang akan dihisap madunya. Aku pun
berbaring perlahan diatas rerumputan sambil memejamkan mataku.
Bip..bip...Aku membuka pesan masuk yang menyebabkan dering
dihandphoneku. "Jangan lupa hari sabtu ya Ayasha:)" aku hanya
tersenyum dan tidak membalasnya. Lantas ku lihat jam di layar handphoneku, jam setengah sepuluh malam.
Naura sudah lebih dulu meninggalkanku di kantor ini. Seperti
yang aku ceritakan, dia memang seorang wanita yang mengerjakan semua
pekerjaannya dengan maksimal, bahkan sebelum batas waktu yang ditentukan pun
dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Aku perhatikan dari mimik wajahnya,
nampaknya Naura sedang terlibat dalam persoalan asmara. Membuat raut wajahnya terlihat
lebih mempesona, karena selalu dibalut oleh kebahagiaan-kebahagiaan tentang
persoalan cintanya.
#####
Matahari
menelusup pelan di balik jendela kamarku. Hari ini, aku sengaja bangun pagi-pagi.
Aku membuka pintu kamar dengan sangat pelan dan mulai berjalan jinjit menuju
kamar mandi agar aku tidak membuat kegaduhan di dalam rumah pada pagi hari ini.
Selesai menyegarkan tubuh. Aku mengacak-acak lemari pakaianku dan mencari baju
apa yang cocok untuk aku kenakan hari ini. Seperti kebanyakan dari perempuan
yang selalu sibuk berdadan untuk diajak kencan oleh seorang laki-laki, walaupun
dia bukan bagian yang berarti dalam hidup laki-laki itu, dia tetap harus
memperlihatkan penampilan yang maksimal didepannya.
Matahari merangkak tinggi, larik-larik cahayanya jatuh
membasuh dan menjelma menjadi keping-keping cahaya di tanah ketika membentur
dedaunan pohon yang bergetar-getar. Kali ini kita akan menyaksikan sebuah
pertunjukan melukis diatas pasir yang diikuti oleh alur cerita didalamnya
dengan judul "Aku Harap Kamu Tau". Cerita itu mengisahkan suka dan
duka menyembunyikan cinta dalam diam. Dimana seseorang hanya mampu menatap dari
balik pagar, tanpa pernah benar-benar nyata dalam benak orang yang sangat ia
sayangi. Kesedihan dan semua yang ada sangkut pautnya dengan hati hanya bisa ia
rasakan dan ditelan sendiri. Mencoba meminta kejelasan namun tak ingin bila
akhirnya itu akan menyakitan. Hanya bisa diam, menatap langit senja yang terus
menyembunyikan matahari didalamnya. Tentang pengorbanan jatuh cinta dalam diam,
yang lebih berperan dan menyita begitu banyak ruang dan waktu.
Kita berjalan pulang menuju mobil yang diparkir tidak jauh
dari gedung pementasan tadi. Tiba-tiba aku mengumpulkan semua keberanianku,
untuk menanyakan sesuatu hal padanya. "Sebenarnya kita sudah sedekat ini,
kamu anggap aku apa? Temankah? Sahabatkah? Atau apa?"
"Aku menganggapmu yang jelas lebih dari
sahabatlah." Dia menyatakannya sambil membelai lembut rambutku. Aku hanya
mencoba diam dan tidak bersuara karena takut menimbulkan hal yang membuatku
dengan tidak sadar memberi sinyal padanya. Sungguh, itu bukan karakterku.
#####
Barisan
kalimat
hitam penuh makna memenuhi lembar kosong dalam diaryku ini. Mewakili
apa saja yang tidak mampu aku sampaikan padamu. Hari berlalu seiring
berjalannya waktu. Kita sudah sedekat ini. Kamu selalu menceritakan
padaku
tentang sosok wanita idamanmu. Melalui pesan singkat yang setiap hari
kau
kirimkan padaku, membuatku yakin bahwa kau memiliki rasa yang sama
seperti apa
yang ku rasa. Rangkaian kalimat manis yang tertulis, nyaris tidak dapat
membuatku tertidur nyenyak akhir-akhir ini karena selalu saja membuatku
tersenyum setiap kali mengingatnya. Kita sudah saling mengenal satu sama
lain,
bahkan kau sudah mengenalkanku kepada kedua orang tuamu, meski tanpa
kejelasan yang aku harapkan.
Aku beranjak dari kursi tempatku bekerja. Mendekati jendela dan
berharap dalam kesunyian malam. Tiba-tiba
saja handphoneku berdering.
"Aku lagi diparkiran kantormu nih, ada yang ingin aku
sampaikan. Pasti kamu senang sekali mendengarnya."
Otakku mencoba menebak-nebak kejutan apa yang akan dia buat.
Tiba-tiba saja wujudnya sudah berada di depan pandanganku.
"Hei." Aku memperhatikan dari jauh sosoknya yang
sedang memberi sapaan hangat kepada seseorang.
"Sudah lama menunggu?" Tanya seseorang wanita
dihadapannya yang ternyata adalah Naura.
Saba mengeluarkan senyum tebaiknya. Perlahan tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Aku
nyaris terbelak melihat drama yang baru saja aku saksikan itu. Kemudian aku
perhatikan gerak gerik mereka, mencoba mengerti lebih dalam lagi apa arti sebuah
genggaman yang mengisyaratkan mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.
Mataku tertuju pada cincin permata dijari manis Naura yang berkilau dan tidak
pernah ia kenakan sebelumnya. Saba mencium kening Naura dengan lembut,
mendaratkan tangannya untuk membelai rambut Naura. Hal itu
membuat hati ini yakin bahwa mereka telah mempunyai hubungan khusus, atau lebih tepatnya mereka sudah
menjadi sepasang kekasih. Jadi itu wujud nyata laki-laki yang membuat
Naura merasakan bunga dalam hatinya mulai bermekaran.
Rasanya bagai memikul sekarung perasaan dipunggung yang
akhirnya karung itu sudah terlalu lelah dipikul sendirian dan jatuh tidak ada
yang menadahnya. Waktu terlalu cepat untuk dihentikan, terlalu sulit untuk
dibalikkan dan terlalu rumit untuk dilupakan. Mengapa selalu wanita? Mengapa
selalu wanita yang menunggu dalam kesepian, menanti dalam kesunyian dan
berharapa dalam kekosongan. Mungkin aku menjadi objek dalam fotomu, tetapi aku
tidak akan pernah menjadi objek dalam hatimu.
Saba terlihat bahagia saat mendapati diriku ada dibalik
jendela yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia lantas saja berlari
menghampiriku. "Ay, aku akan segera menikah, bagaimana? Kamu senang bukan
melihat kakakmu ini bahagia?"
"Kakak? Ternyata yang lebih dari sahabat itu aku hanya
dianggapnya sebagai adik." Aku bertanya dalam hati. Tersenyum sambil
mengangguk menatap Saba. Mencoba untuk tidak menjatuhkan air mata dihadapannya.
Aku memang orang yang pendiam. Diam-diam aku jatuh cinta kepadamu dan diam-diam
aku menahan perih karenamu. Air mata yang sudah tidak mampu dibendung lagi
akhirnya mengalir begitu derasnya. Bahkan tubuhku mulai tak berasa bahwa ada
rangka di dalamnya. Karena cinta bisa mati suatu saat jika hanya merawatnya
sedirian.
"Kamu kenapa? Jangan sedih dong, kita akan tetap
bertemu, aku tetap akan memberi perhatian lebih
padamu, kamu orang yang sangat spesial untukku, paling aku sayangi
karena bagiku kamu itu seperti adik kandungku sendiri." Dia mengulurkan
tangan kanannya untuk masuk melaui celah jendela dan berusaha sebisanya menghapus
air mataku. Tangannya mulai berani menelusuri setiap lekukan dihidungku dan
mencubitnya seakan ingin berusaha membuatku tersenyum kembali.
"Ini air mata kebahagiaanku Saba." Ucapku bodoh
membohongi perasaanku sendiri dan tersenyum padahal hati ini menangis terisak.
Saba
mengalihkan pandangannya dariku dan mulai pergi untuk menghampiri
Naura. Mereka tersenyum bahagia sambil melambaikan tangan dan
memamerkan kemesraannya padaku. Aku hanya bisa menyembunyikan kesedihan
dalam
senyum yang ku buat ini. Aku tidak bisa menyalahkan Naura, karena memang
dari
awal Naura tidak mengetahui siapa laki-laki yang benar-benar ku
sayangi. Lagi pula aku harus belajar menerima, apa salahnya sahabatku
bahagia
dengan kekasih pilihannya.
Yang terlalu percaya diri akhirnya jatuh ke dalam jurang,
karena saat jatuh cinta akal logika akan benar-benar berhenti bejalan. Lantas,
bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang tidak pernah kau miliki?
Ini adalah sepenggal rasa yang telah ku simpan sejak lama. Sepenggal rasa
yang tak kunjung tersampaikan pada tuannya. Sampai ujung perpisahan pun, aku
tetap berdiri dalam diam, jauh dibelakangnya.
Sementara di atap yang berbeda, Saba mulai mengayunkan
jemarinya untuk menulis diatas lembar kertas putih yang baru saja keluar dari
pabriknya.
Teruntuk Ayasha,
Bukan
salah takdir yang tidak membuat kita menyatu. Bukan salah kau atau aku yang
tidak kunjung mengungkapkan sesuatu. Mungkin kau bertanya-tanya bagaimana aku
bisa tau tentang perasaanmu padaku. Kamu ingat pertunjukan melukis diatas pasir
kala itu? Saat kau menitipkan handphonemu padaku? Aku tidak sengaja membukanya
dan mendapati ukiran indah namaku yang telah kau buat. "Aku mencintaimu,
Saba". Begitu banyak sekat diantara kita dan setiap tanganku yang terulur
ingin mendekapmu, selalu kembali melunglai sia-sia. Meski diam-diam aku selalu
menatapmu dengan cinta yang meneteskan rindu. Aku tidak ingin kau beranggapan
bahwa aku akan membalas perasaanmu dengan menjadikan kau kekasih hatiku.
Sungguh, aku benar-benar mencintaimu benar-benar tak ingin kita berpisah atau
pun bertengkar karena ikatan sepasang kekasih yang telah aku ciptakan. Begitu
banyak kekasihku diluar sana yang berakhir sama seperti sebelumnya. Bukan
berarti aku ingin mempermainkan Naura, tidak, tidak seperti itu. Aku
ingin membuatmu terus menatap sahabatmu bahkan sampai kamu tidak sanggup lagi
menjalani kehidupan di dunia ini. Aku yang selalu mencoba memastikan keadaanmu,
sehingga setiap hari aku berusaha datang ke tempatmu bekerja, untuk sekadar
mengintip atau bahkan melihatmu tertawa. Itulah yang membuatku mengetahui bahwa
seorang wanita yang selalu menemanimu adalah seorang sahabat bagimu, yang
membuatku menjadikannya kekasih hatiku. Aku mencintaimu, namun perasaan ini
jauh lebih dalam daripada yang kau rasakan, oleh sebab itu aku ingin membuatmu
menjadi adikku, adik kandungku. Karena dengan itu aku akan selalu menjagamu,
melindungi, dan tidak akan menyakitimu. Tanpa membuat kita bertengar mengenai
soal cinta, tanpa membuat kita menjalani berbagai persoalan-persoalan rumah
tangga. Mulai saat ini aku tidak perlu ragu untuk memelukmu karena aku sudah
memberi kejelasan yang pasti padamu. Kamu tau alasan lain mengapa aku menyukai
hujan? Itu karena hujan yang mempertemukanku dengan sosokmu. Mencintai bukan
hanya mengingat tetapi juga mendoakan orang yang kita cintai meski tidak bisa
bersama. Ada sesuatu hal yang tidak dapat diraih kembali yaitu waktu yang telah
beranjak pergi. Aku harap kamu selalu menghargai setiap satu detik, dua detik,
tiga detik bahkan sampai detik-detik berikutnya. Aku ingin kamu mengetahui yang
sebenarnya setelah waktu tidak lagi tersisa untukku.
Aku;
seseorang yang menyukai hujan.